Sabtu, 12 Juli 2008

tentang pertanyaan dan kerjaan baru

Hari ini di mulai dengan pertanyaan.
“Wis tangi le?”
“Wis.”
“Tenane?”(bisa diganti hoopo?)
“Iya”
“Yawes.”
“Sehat to?”
“Sehat.”
“bla..bla..bla”
“Hoopo?”
“bla…bla..bla..”

Pas hari mulai sedikit terang datang pertanyaan lagi. Ada SMS…
“Gimana? Dapet brp responden?Malem ini harus sudah selesai ya?
Sekarang pertanyaan yang ini bikin saya bangkit dari tempat tidur dan cepat mandi. Memang pekerjaan baru saya yang ini harus di mulai pagi sekali. Pekerjaan yang kerjaanya bertanya melulu. Disini nggak ada benar salah, jadi nggak relevan kalo pas abis Tanya saya bilang hoopo.
Jadi enumerator atau pengumpul data memang susah dan penuh perjuangan. Mungkin karena sangat kontras dengan pekerjaan utama saya yang desainer grafis yang searian duduk di meja. Hoopo? Tapi memang tetap saya jalani karena duitnya yang lumayan plus keliling-kelilingnya yang nggak saya lakoni kalo pas nggak jadi enumerator.
Siang ini saya harus keluar masuk gang yang membuat saya sadar kalau perut saya buncit. Gang-gang kecil yang seperti teka-teki. Selalu membuat saya lupa arah keluar gang. Rumah-rumah yang hanya berjarak kurang dati setengah meter. Tidak pernah dari dekat saya benar-benar menyaksikan.
Siang ini saya benar-benar kagum. Di kilometer nol Yogyakarta ini saya menjumpai orang yang belum pernah liat iklan sutrisno bachir yang belakangan rada caper itu. Yang menghabiskan nominal yang memancing orang untuk mengungkapkan hoopo? Sungguh insightfull! Gembar-gembor dunia infomasi nggak nyampe ke mereka. Mereka hanya perlu memikirkan asap di kompor di dapur yang letaknya di jalan gang rt itu tetap mengepul.
“kula niki mboten sempat mas mikir sing politik napa pripun niku. Wong mboten kacek presidene sinten mawon.”
“Wong cilik nggih tetep teng ngisor to mas?”
Weuw!! Tengkyu Pride Indonesia yang sudah memberikan kesempatan untuk gang-gang penuh teka-tekinya Yogyakarta. Tengkyu buat honor dan pengalaman yang insightfullnya. Tapi tidak untuk deadline 36 responden dalam 2 hari. Juga saya harus kejar-kejaran dengan deadline desain saya. Saya harus ngatur jadwal lagi eksekusi print ad buat entry phinastika (ga papa soalnya honor jadi enumerator bias buar ongkos entry phinastika..gitu). Tapi bener-bener thanks buat kesempatan dengerin curhat orang Prawirodirjan Yogyakarta.
Setelah seharian saya bertanya ke banyak orang, belakangan saya akhiri hari ini dengan pertanyaan.
“Posisi dimana?Dapet berapa?”(Supervisor Pride yang belakangan ketahuan crewetnya)
“Qom kw nak ndi?”(Tatag 3d artist yang kmrn baru bikin lay out venue event n nunggu logo dari saya)
“Mas arqom logonx bisa tak ambil kpn?”(Yuki UKM Musik STIM mo bikin event artisnya Tika---hehe bocoran)
“Qom iso ketemuan ra?ana job.”(Danang Advert UGM 2005. nuwun job…job…job)
Semua pertanyaan itu tidak bisa saya jawab dengan Hoopo?
Karena jawabannya bukan kata lagi melainkan aksi.
Harus nyelesain desain logo n propsl event, harus ngatur jadwal besok biar survey cepet kelar n bayaran, harus ngatur waktu walau pengen tidur-tiduran aja seharian.
Nah, kalo udah gini otak rasanya jadi O yang bergulung-gulung.Hoopo?

hoopothings


Hoopo?
Selalu ketemu tiap hari sama pertanyaan-pertanyaan. Tentang apapun, dari siapapun, atau dari diri sendiri. Kadang minta jawaban orang lain, dijawab sendiri, menjawab pertanyaan orang. Bahkan juga ketemu jawabannya terlebih dulu baru kemudian membuat pertanyaan. Atau memang terkadang banyak pertanyaan yang tidak perlu dijawab, sebaliknya juga jawaban yang tidak perlu pertanyaan.
Hoopo?
Benarkah? Terkadang pertanyaan seperti ini tidak membutuhkan jawaban. Terutama ungkapan ho’o po? Dalam jawa berarti benarkan kadang memang menjadi ungkapan membutuhkan penegasan. Bukan benar-benar ingin tahu jawabannya karena sesungguhnya sudah tahu. Atau memang tidak mudah di jawab kalau memang yang di butuhkan benar-benar kebenaran. Yang ini susah jawabnya, susah nyarinya. Kebenaran siapa? Yang mana? Ada g di wikipedia?
Hoopo?
Kali ini saya memulai membikin blog lagi dengan inisial hoopo. Memang yang ini saya khususkan buat tulisan-tulisan pribadi saya. Memberi ruang untuk subjektifitas saya. Kalo yang kemarin isinya gambar melulu, maka yang ini saya buat banyak tulisannya. Biar lebih intens lagi nge-blog. Dan biar dapet hoopo? Atau menghoopokan sesuatu? Atau dihoopokan orang lain.
Hoopo?
Lucunya dalam memulai blog ini yang saya rencanakan banyak tulisannya-copy base- malahan saya dapet makna hoopo yang lebih art base. Yaitu ketika diterjemahkan dalam bahasa inggris – walau inggris saya tingpecothot -. Hoop artinya bergulung-gulung, kemudian o adalah o. Jadi maknanya jadi O yang bergulung-gulung. Jadi art base kan? Soalnya lebih mudah menggambarkan O yang bergulung-gulung itu dalam satu gambar. Tapi lagi-lagi saya harus bikin jawaban buat pertanyaan tentang o yang bergulung-gulung. Tapi pasti pas saya udah jawab malah balik di Tanya. Hoopo?
Hoopo?
Maka blog ini mencoba menghoopokan, dihoopokan, tentang apapun, siapapun. Dan trimakasih sudah berkunjung. Hoopothings gitu deh.